Jateng Post – Ekspor Batik Jateng menunjukkan tren pertumbuhan yang signifikan di tengah penurunan jumlah pengrajin batik nasional. Dalam empat tahun terakhir, jumlah pengrajin batik di Indonesia turun hingga 40 persen. Data menunjukkan angka pengrajin menyusut dari 82.550 orang menjadi hanya 49.530 orang pada 2024. Kondisi ini mencerminkan tantangan serius yang dihadapi sektor industri kreatif berbasis budaya.

Meski jumlah pengrajin berkurang, Jawa Tengah justru mencatatkan kinerja ekspor yang impresif. Sepanjang 2024, nilai ekspor produk batik dari Jawa Tengah meningkat hingga 76 persen. Peningkatan ini menandakan daya saing batik Jateng masih kuat di pasar internasional, baik dari segi kualitas, motif, maupun inovasi produk.
Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jawa Tengah, Nawal Arafah Yasin, mengungkapkan capaian tersebut di sela rapat kerja daerah Dekranasda Jateng. Kegiatan tersebut berlangsung di Gedung Gradika Bakti Praja, Semarang, dan dihadiri Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, pada Senin (15/12/2025). Nawal menegaskan bahwa peningkatan ekspor tidak lepas dari peran pelaku usaha yang mampu beradaptasi dengan permintaan pasar global.
Baca Juga : Inovasi Diakui Nasional, Jateng Boyong Penghargaan MenPAN-RB
Menurut Nawal, para pelaku industri batik di Jawa Tengah terus melakukan diversifikasi produk dan memperkuat strategi pemasaran digital. Mereka juga aktif mengikuti pameran internasional serta membangun jejaring dagang dengan pembeli luar negeri. Langkah tersebut menjaga performa Ekspor Batik Jateng tetap tumbuh meskipun basis pengrajinnya menyusut.
Dekranasda Jawa Tengah mendorong regenerasi pengrajin melalui pelatihan, pendampingan UMKM, serta kolaborasi dengan generasi muda. Pemerintah daerah juga berkomitmen memperkuat ekosistem industri batik agar penurunan jumlah pengrajin tidak berlanjut. Melalui strategi pembinaan yang tepat, Jawa Tengah menargetkan keberlanjutan batik sebagai warisan budaya sekaligus komoditas ekspor unggulan.















