Jateng Post — Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) tengah mengkaji wacana pemberlakuan kembali sistem enam hari sekolah untuk jenjang SMA dan SMK. Rencana ini memunculkan beragam respons dari masyarakat, termasuk adanya petisi yang menolak penerapannya.

Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, memastikan bahwa kajian dilakukan secara menyeluruh dengan melibatkan banyak pihak, mulai dari sekolah, guru, organisasi pendidikan, hingga orang tua siswa.
“Masih dikaji untuk ide enam hari sekolah,” kata Sumarno dalam keterangan tertulis, Minggu (23/11/2025).
Kajian Komprehensif dan Partisipatif
Sumarno menegaskan bahwa Pemprov Jateng tidak akan mengambil keputusan secara terburu-buru. Pemerintah ingin memastikan bahwa kebijakan yang diterapkan nantinya mampu meningkatkan kualitas pendidikan tanpa membebani siswa maupun tenaga pendidik.
“Kami ingin semua masukan terakomodasi. Setiap kebijakan harus memiliki dampak yang terukur dan mengedepankan kepentingan peserta didik,” ujarnya.
Kajian tersebut meliputi analisis beban belajar siswa, efektivitas proses pembelajaran, kesiapan sekolah, hingga dampaknya terhadap kegiatan ekstrakurikuler dan kesejahteraan guru.
Baca Juga : Pemprov Jateng Dorong Percepatan Implementasi Industri Hijau
Petisi Penolakan Jadi Pertimbangan
Dalam beberapa hari terakhir, muncul petisi yang menolak rencana pengembalian sistem enam hari sekolah. Petisi tersebut mendapat dukungan dari sejumlah orang tua dan pemerhati pendidikan yang menilai sistem lima hari sekolah sudah lebih efektif dan memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan minat di luar sekolah.
Pemprov Jateng memastikan bahwa suara publik melalui petisi tersebut menjadi bagian penting dalam proses perumusan kebijakan.
“Aspirasi masyarakat harus dihormati. Kami ingin keputusan yang diambil benar-benar objektif dan sesuai kebutuhan pendidikan di Jawa Tengah,” tambah Sumarno.
Sejumlah Alasan Mengapa Sistem Enam Hari Dipertimbangkan
Dari informasi sementara, terdapat beberapa alasan mengapa wacana enam hari sekolah kembali dibahas, antara lain:
-
Penyesuaian beban belajar agar jam pelajaran lebih merata dan tidak terlalu padat setiap hari.
-
Optimalisasi kegiatan pembinaan karakter dan ekstrakurikuler.
-
Penyeimbangan penggunaan fasilitas sekolah, khususnya di sekolah dengan jumlah siswa besar.
Namun, alasan tersebut masih dalam tahap analisis dan belum final.
Keputusan Final Masih Menunggu Hasil Kajian
Pemprov Jateng menargetkan hasil kajian dapat disampaikan kepada publik setelah semua data, masukan, dan simulasi diselesaikan. Hingga saat ini, belum ada keputusan untuk menerapkan kembali enam hari sekolah.
“Prinsipnya, semua untuk kebaikan pendidikan. Kita tunggu hasil kajian secara resmi,” tutup Sumarno.
Dengan proses kajian yang transparan dan melibatkan masyarakat, diharapkan keputusan yang diambil nanti dapat memberikan manfaat maksimal bagi dunia pendidikan di Jawa Tengah.















