Jateng Post – Pemerintah Kota Semarang terus berupaya menangani permasalahan tempat pembuangan sementara (TPS) yang penuh, salah satunya TPS di Muktiharjo Kidul, Pedurungan, yang telah melebihi kapasitas. Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng mengungkapkan bahwa pihaknya telah menyiapkan lahan alternatif untuk mengatasi masalah ini.

“Waktu itu kami sudah kunjungan ke Muktiharjo Kidul, TPS di sana sudah penuh dan memang butuh alternatif tambahan,” ujar Agustina di Semarang, Senin (21/7/2025). Ia menegaskan komitmen Pemkot Semarang untuk terus memperbaiki sistem pengelolaan sampah demi menjaga kebersihan dan kenyamanan lingkungan warga.
Pemkot Semarang sudah melakukan peninjauan ke salah satu lahan milik pemerintah yang diproyeksikan menjadi lokasi alternatif TPS. Namun, Agustina mengingatkan bahwa status lahan tersebut harus divalidasi terlebih dahulu, mengingat terdapat berbagai informasi yang simpang siur mengenai statusnya. “Ada yang bilang ini TPU (Tempat Pemakaman Umum), ada juga yang menyebut sebagai lahan garapan warga,” katanya.
Baca Juga : DPRD Jawa Tengah Perkuat Komitmen Cegah Korupsi Bersama KPK
Validasi status lahan ini dilakukan agar pemanfaatannya sebagai alternatif TPS bisa dipastikan legal dan sesuai dengan ketentuan yang ada. Warga sekitar TPS Muktiharjo Kidul telah lama mengeluhkan bau menyengat dan tumpukan sampah yang meluber, mengganggu kenyamanan mereka. Pemkot Semarang pun telah merespons dengan melakukan inspeksi langsung dan evaluasi menyeluruh atas pengelolaan TPS tersebut.
Wali Kota Semarang Tegaskan Komitmen Tangani Masalah TPS dan Stunting
Ke depan, Pemkot Semarang juga fokus pada program “Semarang Bersih” yang mencakup berbagai langkah, antara lain penguatan pemilahan sampah di tingkat rumah tangga, pengelolaan bank sampah, dan kampanye “zero waste” berbasis komunitas. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran warga dalam mengelola sampah dan menjaga lingkungan tetap bersih.
Agustina berharap kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan warga dapat menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan tertata, sekaligus menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk membangun kota yang lebih berkelanjutan.
Selain permasalahan sampah, Agustina juga menyoroti masalah stunting di wilayah Muktiharjo Kidul. Tercatat ada 12 anak yang mengalami stunting di daerah tersebut, meski satu anak telah keluar dari data karena faktor usia. “Itu tetap angka yang besar. Maka kita akan melakukan ‘treatment per cluster’ karena cara menurunkan stunting adalah dengan menyasar kelompok paling kecil, yakni kelurahan supaya lebih terukur hasilnya,” ujar Agustina.
Dengan berbagai langkah tersebut, Pemkot Semarang berharap bisa menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat. Serta menurunkan angka stunting di wilayah-wilayah yang membutuhkan perhatian lebih.















