Jateng Post – Provinsi Jawa Tengah (Jateng) menghadapi tantangan besar dalam pemenuhan tenaga medis, khususnya dokter umum dan dokter spesialis. Sekretaris Daerah Jateng, Sumarno, mengungkapkan bahwa kekurangan dokter umum di wilayahnya diperkirakan mencapai 16 ribu orang.

Saat ini jumlah dokter umum yang tersedia hanya sekitar 11 ribu, sementara kebutuhan idealnya mencapai 27 ribu. Kondisi ini memunculkan kesenjangan besar dalam pelayanan kesehatan, terlebih jika melihat rasio ideal yang ditetapkan pemerintah.
Kekurangan Dokter Spesialis Lebih Serius
Selain dokter umum, kekurangan tenaga dokter spesialis di Jateng juga dinilai lebih mengkhawatirkan. Gap jumlah tenaga medis di bidang spesialis masih jauh lebih lebar dibandingkan kebutuhan. Hal ini berdampak langsung pada pelayanan kesehatan di rumah sakit, terutama di daerah-daerah pinggiran dan terpencil. Banyak rumah sakit di kabupaten/kota yang kesulitan membuka layanan spesialis tertentu karena keterbatasan sumber daya manusia.
Baca Juga : Polisi Umumkan 5 Tersangka Kasus Pembakaran Pos Lantas Simpang Lima dan Kantor Gubernur Jateng
Pernyataan Sekda Jateng
Dalam acara Musyawarah Wilayah Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia (AIPKI) Regional Wilayah IV di Hotel Santika Premiere Semarang, Jumat (19/9/2025), Sumarno menegaskan bahwa pemerintah provinsi tidak mungkin bekerja sendiri untuk menutup celah ini. “Kita di Jawa Tengah masih ada gap. Kalau bicara rasio ideal, kita masih kurang banyak. Dokter umum saja baru 11 ribu, padahal kebutuhannya 27-an ribu. Kalau kita bicara dokter spesialis, gap-nya lebih jauh lagi,” ujar Sumarno.
Peran Penting Asosiasi dan Perguruan Tinggi
Menurut Sumarno, peran asosiasi profesi kedokteran serta institusi pendidikan kedokteran sangat penting untuk ikut menutup kekurangan tenaga medis di Jateng. Pemerintah berharap perguruan tinggi kedokteran mampu memperbanyak lulusan dengan kualitas yang baik, sementara asosiasi profesi dapat mendukung pemerataan distribusi tenaga medis ke seluruh wilayah. Dengan demikian, tidak ada daerah yang tertinggal dalam hal akses layanan kesehatan.
Tantangan dan Harapan ke Depan
Kekurangan ribuan dokter ini bukan hanya masalah angka, tetapi juga berdampak pada kualitas layanan kesehatan masyarakat. Pemprov Jateng bersama stakeholder terkait berkomitmen mencari solusi jangka panjang, termasuk kerja sama dengan pemerintah pusat untuk penambahan kuota pendidikan dokter serta penempatan tenaga kesehatan secara merata. Harapannya, dalam beberapa tahun ke depan, Jawa Tengah dapat memperkecil gap tenaga medis sehingga masyarakat bisa memperoleh pelayanan kesehatan yang lebih optimal.















