Jateng Post – Harga kebutuhan pokok di sejumlah daerah di Jawa Tengah masih belum menunjukkan tanda-tanda penurunan. Bahkan, harga beberapa komoditas strategis seperti beras, cabai, bawang, dan ayam potong terus melonjak, membuat masyarakat semakin terbebani. Kondisi ini mendorong Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk memperluas jangkauan Gerakan Pangan Murah (GPM) sebagai solusi jangka pendek.

Lonjakan Harga di Pasar
Berdasarkan pemantauan hingga Minggu (21/9/2025), harga berbagai bahan pokok di pasaran umum tercatat naik cukup signifikan. Beras masih bertahan di kisaran Rp14.000 per kilogram, bawang merah berada di angka Rp32.000–35.000 per kilogram, cabai yang sebelumnya Rp20.000–25.000 kini menembus Rp30.000 lebih per kilogram, sementara daging ayam potong yang biasanya Rp28.000 kini melonjak menjadi Rp40.000 per kilogram. Telur ayam pun ikut naik menjadi Rp27.000 per kilogram.
Kondisi ini jelas memberatkan masyarakat, apalagi ditambah situasi sulit akibat gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang menimpa ribuan karyawan pabrik di sejumlah wilayah. Banyak keluarga kini terpaksa mengencangkan ikat pinggang untuk sekadar mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Baca Juga : Komisi XI DPR Sebut Target Ekonomi Prabowo 2026 Harus Menjadi Kenyataan
Gerakan Pangan Murah Jadi Andalan
Sebagai langkah mitigasi, Pemprov Jateng memperkuat program Gerakan Pangan Murah (GPM) yang digelar di berbagai kabupaten/kota. Melalui GPM, bahan pokok seperti beras, minyak goreng, gula pasir, hingga telur ayam dijual dengan harga lebih rendah dibanding harga pasar.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Jateng menyebutkan bahwa kegiatan ini bertujuan menekan gejolak harga sekaligus membantu masyarakat berpendapatan rendah. “GPM bukan hanya soal menurunkan harga, tetapi menjaga daya beli masyarakat tetap terjaga,” ujarnya.
Tantangan Pengendalian Inflasi
Meski GPM menjadi solusi cepat, pemerintah daerah juga menyadari perlunya langkah jangka panjang. Distribusi pangan yang masih terkendala, biaya produksi yang meningkat, serta cuaca yang memengaruhi pasokan menjadi faktor utama penyebab harga tak kunjung stabil. Koordinasi lintas sektor, mulai dari pemerintah, Bulog, hingga asosiasi petani dan peternak, terus diperkuat untuk menjaga ketersediaan dan stabilitas harga pangan.
Harapan Masyarakat
Masyarakat berharap program pangan murah bisa digelar lebih sering dan merata di seluruh daerah, terutama wilayah dengan tingkat kerentanan ekonomi tinggi. Dengan demikian, bukan hanya kelompok menengah ke bawah yang bisa terbantu, tetapi juga para buruh dan pekerja yang baru saja kehilangan pekerjaan akibat PHK massal.
Langkah pemerintah lewat GPM diharapkan tidak hanya menurunkan tekanan inflasi pangan, tetapi juga menjaga ketahanan pangan Jawa Tengah di tengah situasi ekonomi yang penuh tantangan.















